Jakarta, Harian Umum- Mantan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham 'Lulung' Lunggana mengembalikan aset yang ia gunakan selama mengemban tugas sebagai anggota Dewan periode 2014-2019 sejak dilantik pada Agustus 2014.
Aset yang dikebalikan adalah satu unit mobil sedan Toyota New Camry dengan nomor polisi B-1910-PQA, satu unit mobil Nissan Navara Pick Up bernomor polisi B-9296-PSD, dan satu unit laptop.
Aset diserahkan secara langsung kepada Pesta Sianturi, kepala Bagian Pengurus Barang Sekretaris Dewan, dan dibuktikan dengan berita acara penyerahan yang ditandatangani kedua belah pihak.
Lulung mengatakan, sejak namanya masuk daftar Caleg Tetap (DCT) untuk DPR RI yang diterbitkan KPU pada Kamis (20/9/2018), dirimya sudah bukan lagi wakil ketua DPRD DKI karena ia nyaleg bukan dari PPP seperti pada 2014 lalu, melainkan dari PAN.
Ia akan bertarung melalui Dapil DKI Jakarta III yang meliputi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.
"Karena itu sesuai ketentuan, aset yang selama ini saya gunakan, harus dikembalikan," katanya kepada wartawan di gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018).
Lulung mengakui, selama ia mengemban amanah sebagai wakil rakyat dari Fraksi PPP, banyak sekali suka dan duka yang ia alami, terutama karena saat gelaran Pilkada DKI Jakarta 2017 ia berada pada posisi berseberangan dengan kebijakan DPP PPP yang kala itu mendukung pasangan Ahok-Djarot, sementara dirinya mendukung pasangan Anies-Sandi yang diusung Gerindra dan PKS.
Perbedaan pilihan ini membuat dirinya tak hanya dibully melalui kata-kata dan meme oleh para pendukung Ahok, namun juga diserang dengan hoaks.
"Waktu kasus UPS, semua orang yakin saya akan masuk (dipenjara, red), tapi alhamdulillah, saya memang tidak terlibat," katanya.
Meski demikian perbedaan pilihan itu membuatnya harus rela meninggalkan PPP karena pada 13 Maret 2017 DPP PPP memecatnya.
"Sekarang saya di PAN. Doakan saya tetap dapat berbuat bagi bangsa dsn negara. Insya Allah saya akan konsiten untuk amar ma'ruf nahi munkar," katanya.
Lulung yakin dia akan lolos ke DPR meski Dapil DKI Jakarta III disebut-sebut sebagai Dapil neraka karena di Dapil itu ada sejumlah nama besar, di antaranya Effendi MS Simbolon (PDIP) dan Tantowi Yahya (Golkar). (rhm)







