Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya tembus level Rp17.000/dolar AS akibat penguatan dolar dan tekanan eksternal, terutama konflik di Timur Tengah.
Rupiah telah terpuruk pada pembukaan perdagangan Senin (30/3/2026) dengan berada di posisi Rp 16.981/dolar AS atau melemah 0,01% dari penutupan Jumat pekan lalu, sementara indeks dolar AS terpantau menguat 0,04% ke posisi 100,19.
Rupiah terus tertekan, sehingga pada pukul 12:08 WIB, penurunan menebal menjadi 0,06% atau 4 poin dan jatuh ke posisi Rp 16.985/dolar AS.
Saat perdagangan ditutup, rupiah terkoreksi tajam 0,13% atau 22 poin dan berada di posisi Rp 17.002/dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat 0,10% ke 100,24.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terhadap rupiah dipicu kondisi pasar global yang masih waspada. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama.
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin (30/3/2026).
Selain itu, Iran juga menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat., karena AS telah mengerahkan ribuan pasukan daratnya ke Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengaku negosiasi dengan Iran masih berjalan, dan peluang kesepakatan untuk menghentikan perang tetap terbuka, meski tidak menyampaikan batas waktu yang jelas.
Namun, Iran membantah adanya negosiasi itu dan memilih untuk melanjutkan perang. Iran bersedia negosiasi jika AS menerima lima syarat yang diajukannya yang antara lain bahwa AS harus mengakui kedaulatan dan penguasaan Selat Hormuz oleh Iran.
Dari sisi ekonomi, kata Ibrahim, sentimen konsumen AS menunjukkan pelemahan. Survei University of Michigan mencatat indeks sentimen turun ke 53,3 pada Maret dari sebelumnya 55,5. Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 54.
Ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan naik dari 3,4 persen menjadi 3,8 persen. Proyeksi inflasi jangka panjang lima tahun bertahan di level 3,2 persen. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pasar melihat peluang kenaikan suku bunga masih terbuka di tengah lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar tidak lagi memperkirakan penurunan suku bunga tahun ini. Peluang kenaikan suku bunga pada akhir 2026 bahkan mencapai sekitar 50 persen. Proyeksi ini berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kebijakan efisiensi anggaran perlu diimbangi strategi lain. Langkah ini penting untuk menjaga defisit APBN.
Ia menjelaskan, tekanan fiskal bersifat struktural. Sumbernya berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, serta kebutuhan belanja prioritas.
Ruang efisiensi anggaran masih tersedia, tetapi terbatas. Pemerintah perlu selektif, terutama pada belanja non-prioritas.
Struktur belanja negara dinilai semakin ketat, terutama pada subsidi energi, belanja pegawai, dan pembayaran bunga utang. Efektivitas efisiensi anggaran dapat diukur dari beberapa indikator, meliputi peningkatan dampak program, perbaikan rasio ICOR atau Incremental Capital Output Ratio, serta pergeseran ke belanja produktif.
Stabilitas pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dan inflasi terkendali juga menjadi acuan. Pola penyerapan anggaran sepanjang tahun turut menjadi faktor penting. Penyerapan yang rendah tanpa peningkatan output berisiko menekan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah, menurut Ibrfahim, perlu mengombinasikan efisiensi dengan peningkatan penerimaan negara, reprioritas belanja berbasis hasil, serta pengelolaan pembiayaan yang kredibel.
“Untuk mengimbangi tekanan itu, ruang optimalisasi kebijakan melalui peningkatan penerimaan, reprioritas belanja berbasis hasil (outcome), serta pengelolaan pembiayaan yang kredibel, dinilai perlu diterapkan secara bersamaan dengan implementasi efisiensi anggaran. Tanpa itu, efisiensi hanya menjadi bantalan jangka pendek, sementara tekanan defisit berpotensi meningkat di paruh kedua tahun,” pungkasnya. (man)







