Jakarta, Harian Umum- Warga Jakarta meminati Program Rumah DP 0 Rupiah yang digulirkan Gubernur Anies Baswedan dan Wagub Sandiaga Uno.
Terbukti, warga yang telah menghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Jatinegara Barat, Jakarta Timur, pun berminat membeli rumah yang pada tahap pertama dibangun di kawasan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, itu.
"Saya sudah pesan ke anak saya, pokoknya kalau ada info yang rumah DP nol rupiah itu, mau (beli)" kata Ade, salah seorang warga Rusunawa Jatinegara Barat, seperti dilansir ROL, Sabtu (20/1/2018).
Hal senada dikatakan Yati, juga penghuni Rusunawa Jatinegara Barat. Dia mengaku ingin sekali pindah dari Rusun yang sekarang dihuninya, namun sayangnya dia mengaku takut kalau syarat yang ditetapkan untuk memiliki Rusunami DP 0 rupiah terlalu sulit dipenuhi.
"Saya dengar sih yang DP nol itu. Tapi kok katanya minimal gajinya Rp4 juta? Itu sih enggak mampu saya," kata penjual soto yang suaminya bekerja serabutan ini.
Yati mengaku ingin pindah dari Rusunami karena tak mau selamanya membayar sewa, dan ingin punya rumah sendiri.
Untuk diketahui, penghuni Rusunawa Jatinegara Barat rata-rata merupakan korban gusuran di Kampung Pulo, Jakarta Timur, sehingga mereka yang semula memiliki rumah sendiri, kini berstatus sebagai penyewa/pengontrak di Rusunawa Jatinegara Barat.
Ade yang bekerja di bidang informal, tegas mengatakan kalau meski nyaman tinggal di Rusunawa Jatinegara Barat, namun status sebagai penyewa dan harus membayar iuran bulanan, membuatnya kurang sreg.
"Jadi, kalau ada kesempatan pindah, ya pindah," katanya.
Seperti diketahui, Program Rumah DP 0 Rupiah merupakan salah satu janji Anies-Sandi saat kampanye Pilkada DKI 2017, yang bertujuan untuk merealisasikan slogan mereka yang berbunyi "Maju Kotanya, Bahagia Warganya".
Untuk tahap pembangunan rumah itu di lakukan di kawasan Pondok Kelapa, dan dinamai Klapa Village. Groundbreaking pembangunan rumah berupa rumah susun milik (Rusunami) itu dilakukan Anies Kamis (18/1/2018) lalu.
Dalam pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu, Pemprov DKI membangun satu menara setinggi 20 lantai dengan 703 unit hunian yang terdiri dari 513 unit tipe 36 dan 190 unit tipe 21.
Tipe 36 yang memiliki dua kamar dilego dengan harga Rp320 juta, sementara tipe 21 yang memiliki satu kamar dijual Rp185 juta.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta, Agustino Darmawan, mengatakan, ada beberapa syarat bagi warga yang ingin mengikuti program ini.
Pertama, harus ber-KTP DKI; kedua, sudah menikah; dan ketiga belum memiliki rumah yang dikuatkan oleh surat dari kelurahan.
Syarat lain, harus berpenghasilan di bawah Rp7 juta dan minimal memiliki gaji sesuai upah minimum provinsi (UMP) DKI. (man)







