Jakarta, Harian Umum - Pendapatan asli daerah (PAD) Pemprov DKI Jakarta dari sektor retribusi, pada tahun anggaran (TA) 2016 diduga menguap sebesar Rp2.484.667.000.
"Kebocoran di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (TPST) ini terungkap berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Semester II-2017 Anggaran Retribusi APBD Tahun 2016," jelas Marisi Siahaan, direktur investigasi LSM Sisir (Solidaritas Independen Sosial Kontrol Indonesia), Jumat (24/11/2017), di Jakarta.
Berdasarkan LHP BPK tersebut diketahui kalau kebocoran terungkap dari data jumlah SKRD (Surat Ketetapan Retribusi Daerah) yang diinput PTSP melalui sistem E-Retribusi sebesar Rp6.916.021.648 terdapat SKRD sebesar Rp3.174.967.208 yang menurut BPK perlu ditelusuri penerbitan, pelunasan dan data pelaporannya.
"Munculnya selisih angka sebesar Rp3.174.967.208 yang perlu diklarifikasi adalah akibat uji coba atau simulasi pengimputan SKRD oleh seluruh penerbit izin/SKRD di lingkungan PTSP, sehingga data yang diinput tersebut sebagian merupakan data "dummy" yang harus segera dihapus dari sistem E-Retribusi setelah uji coba selesai," demikian dikutip dari LHP tersebut.
Marisi mengaku kalau ia sempat mengklarifikasi temuan BPK ini kepada TPST pada 7 September 2017, dan dijawab oleh Wakil Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) Denny Wahyu Haryanto pada 20 September.
Dalam jawabannya, Denny menyebut kalau dari SKRD Rp3.174.967.208 tersebut sudah dibayar SKRD sebesar Rp690.300.200, sedang sisanya sebesar Rp2.484.667.008 masih dalam penelusuran.
Meski demikian Marisi mengatakan, karena Denny mengaku masih baru menduduki jabatan Wakadinas BPMPTSP, dia disarankan agar konfirmasi kepada Kepala DPMPTSP Edi Junaedi.
Sayang, Edi tak dapat dimintai tanggapan karena pesan yang dikirim via WhatsApp tak kunjung dibalas, sehingga Marisi bersama beberapa wartawan menemui mantan Sekretaris BPMPTSP Ricki Marojahan Mulia yang kini menjawab Kabid PTSP.
Namun Ricki mengaku tak tahu siapa yang mengeluarkan surat jawaban untuk Marisi itu, dan sempat memanggil sejumlah bawahannya untuk mengklarifikasi.
Namun, para bawahan pun mengaku tak tahu, sehingga suasana menjadi tegang, sehingga Marisi dan wartawan memutuskan untuk meninggalkannya. (rhm)







