Jakarta, Harian Umum - Iran kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah dibuka, dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa pihaknya tetap memblokade arus maritim Iran yang telah dilakukan sejak 13 April lalu.
Laporan Al Mayadeen menyebutkan, Selat Hormuz yang dibuka Iran pada Jumat (17/4/2026), menyusul disepakatinya gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel, ditutup kembali oleh Iran karena AS tetap membolade perairannya.
"Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup mulai malam ini (Sabtu malam, red) dengan alasan pelanggaran berkelanjutan terkait kesepakatan gencatan senjata," kata Al Mayadeen dikutip Minggu (19/4/2026).
Dalam sebuah pernyataan, IRGC mengatakan beberapa kapal telah melintasi jalur air tersebut sehari sebelumnya, tetapi menekankan bahwa Amerika Serikat belum mencabut blokade angkatan laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
“Oleh karena itu, mulai malam ini, Selat Hormuz akan ditutup hingga blokade ini dicabut,” kata IRGC dalam pernyataan itu.
IRGC memperingatkan bahwa kapal-kapal harus tetap berlabuh di Teluk Persia dan Laut Oman, karena setiap pergerakan menuju Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh (AS).
“Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, dan mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran,” lanjut pernyataan itu.
Dalam pernyataannya, IRGC juga mendesak operator maritim untuk hanya mengandalkan komunikasi resmi dari Angkatan Laut IRGC melalui Saluran 16, dan menyatakan bahwa apapun pernyataan presiden AS terkait hal ini adalah tidak kredibel.
“Selain itu, kami menginformasikan kepada semua kapal dan pemiliknya untuk hanya mengikuti berita dari otoritas resmi Angkatan Laut IRGC dan melalui Saluran 16, dan pernyataan presiden AS di Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak memiliki kredibilitas,” katanya.
Di sisi lain, Tasnim News Agency melaporkan bahwa The Supreme National Security Council (SNSC) atau Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan bahwa Teheran akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan ketat atas Selat Hormuz hingga perang agresi AS-Israel sepenuhnya berakhir dan perdamaian abadi tercapai.
"Sekretariat SNSC mengumumkan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu bahwa setelah kegagalan pihak agresor di medan perang dan permintaan selanjutnya dari Amerika Serikat untuk bernegosiasi, Iran setuju—melalui mediasi oleh Pakistan—untuk mengadakan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik berdasarkan kerangka kerja yang diusulkan," kata Tasnim.
Pernyataan tersebut mencatat bahwa delegasi Iran terlibat dalam negosiasi yang panjang, di mana mereka dengan tegas menyampaikan posisi negara tersebut meskipun sangat tidak percaya pada Amerika Serikat, dan pembicaraan itu gagal karena AS mengajukan tuntutan tambahan yang ditolak Iran.
Dalam pernyataannya, SNSC juga mengaku bahwa pihaknya telah menerima proposal perundingan selanjutnya melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator, dan proposal itu sedang dipelajari.
"SNSC menegaskan bahwa tim negosiasi Iran tidak akan mengalah untuk kepentingan nasional dan akan terus membela hak dan pengorbanan rakyat Iran," kata Tasnim. (man)





