Jakarta, Harian Umum- Sulawesi Tengah (Sulteng) kembali diguncang tiga gempa susulan berkekuatan di kisaran angka 5 pada skala Ritcher (SR), Sabtu (29/9/2018).
Ketiga gempa susulan ini membuat warga yang masih trauma oleh gempa 7,4 SR pada Jumat (28/9/2018) yang memicu datangnya tsunami, panik dan ketakutan, sehingga mereka yang telah kembali ke rumahnya, kembali pula berlarian menyelamatkan diri.
Menurut data bmkg.go.id, gempa pertama terjadi pukul 04:24:02 WIB dengan kekuatan 5,5 SR. Gempa ini berpusat di titik kordinat 1.52 Lintang Selatan (LS) dan 120.16 Bujur Timur (BT) pada kedalaman 10 Km. Titik kordinat tersebut berjarak 34 Km tenggara Sigli, Sulteng.
Gempa kedua berkekuatan 5,4 SR dan terjadi pada pukul 09:32:52 WIB. Gempa ini berada di titik kordinat 1.49 LS dan 120.04 BT pada kedalaman 10 Km. TItik ini berjarak 21 Km tenggara Sigli, Sulteng.
Gempa ketiga terjadi pukul 14:40:15 WIB dengan kekuatan 5,1 SR. Gempa berpusat di titik kordinat 1.85 LS dan 120.75 BT pada kedalaman 102 Km. Titik tersebut berada 54 Km barat daya Poso, Sulteng.
Hingga kini dikabarkan masih ada warga yang mengungsi di dataran tinggi, sehingga BMKG mengingatkan warga agar menjauhi tebing karena dikhawatirkan longsor.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers siang ini mengatakan, data sementara yang masuk menyebutkan bahwa korbam tewas akibat gempa dan tsunami di Palu mencapai 384 orang dan korban luka 540 orang.
"Jumlah ini akan bertambah karena pendataan masih dilakukan," katanya.
Ia mengakui kalau data dari Donggala belum diperoleh karena Donggala menjadi wilayah terdampak paling parah karena pusat gempa 7,4 SR kemarin berpusat di wilayah itu.
"Tapi kami menduga jumlah korban tidak sebanyak di Palu," imbuhnya.
Para korban tewas dan luka-luka di Palu tersebar di sejumlah rumah sakit, yakni
RS Woodward, RS Budi Agung, RS Samarian dan RS Undata.
Sutopo juga mengatakan kalau tsunami yang dipicu gempa 7,4 SR kemarin terjadi di empat wilayah, di antaranya Donggala, Palu dan Mamuju.
Gempa susulan diprediski masih akan terjadi akibat pergeseran sesar Palu Koro. (rhm)






