Jakarta, Harian Umum - Iran agaknya punya misi khusus ketika menemui Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad, Sabtu (25/4/2024), dan membuat Amerika Serikat (AS) gede rasa (Ge-er), sehingga mengirim utusan ke Islamabad dengan harapan bisa kembali berunding dengan Iran
Misi tersebut adalah untuk menjelaskan mengapa Iran menolak untuk kembali berunding dengan AS yang bersama Israel menyerang negaranya pada tanggal 28 Februari, untuk menggulingkan pemerintahan Iran yang sah.
Bisa jadi, Araqchi menemui Sharif untuk meminta PM Pakistan tersebut agar jangan lagi memediasi pihaknya dengan AS.
Hal ini tercermin dari laporan kantor berita Tasnim terkait pertemuan keduanya tersebut.
"Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memberi pengarahan kepada Perdana Menteri Pakistan tentang posisi Teheran terkait perkembangan gencatan senjata terbaru dalam perang agresi AS-Israel terhadap Iran, serta membahas hubungan bilateral dan isu-isu regional," kata Tasnim dikutip Minggu (26/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, yang juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Pakistan Muhammad Ishaq Dar, kedua pihak membahas hubungan bilateral, kerja sama di berbagai bidang, dan perkembangan regional dan internasional.
Sharif merespon positif pernyataan Araqchi dengan mengatakan mengatakan bahwa ia sepakat Iran dan Pakistan memperkuat hubungan bilateral dan memperluas kerja sama di tingkat multilateral dan dalam organisasi internasional.
Sharif juga menyatakan keyakinannya bahwa arah ini akan terus berlanjut dengan teguh sejalan dengan kepentingan bersama kedua negara Muslimbyang tetangga tersebut.
"Araqchi menyampaikan apresiasi atas upaya para pejabat senior Pakistan dalam mengakhiri perang agresi AS-Israel terhadap Iran, serta peran mereka dalam memfasilitasi gencatan senjata dan menjadi tuan rumah negosiasi. Namun, Araqchi juga menegaskan posisi prinsip Iran terkait gencatan senjata tersebut dan penghentian total perang yang dipaksakan," imbuh Tasnim.
Kantor berita semi-resmi Iran itu juga melaporkan, dalam pertemuan dengan Sharif tersebut, Araqchi juga membeberka kejahatan berkelanjutan yang dilakukan oleh rezim Israel di wilayah Palestina yang diduduki dan pelanggaran berulang terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon.
"Araqchi mengapresiasi sikap pemerintah dan rakyat Pakistan dalam mendukung bangsa Palestina dan upaya Islamabad untuk menerapkan kesepahaman gencatan senjata di Lebanon," sambung Tasnim.
Seperti diketahui, negosiasi AS dengan Iran yang dimediasi Sharif, gagal mencapai kesepakatan pada perundingan tanggal 11-12 April lalu, karena meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyetujui 10 syarat yang diajukan Iran, saat perundingan terjadi sebaliknya, sehingga Iran menganggap syarat yang diajukan AS dalam perundingan itu tidak masuk akal.
Syarat yang diminta Iran antara lain pengakuan kedaulatan dan kewenangan Iran di Selat Hormuz dan tidak ada larangan pengayaan uranium, sementara permintaan AS antara lain Iran harus membuka Selat Hormuz tanpa di bawah kendali Iran, dan Iran menghentikan pengayaan uranium, serta menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada AS.
Kegagalan negosiasi itu membuat Trump marah dan memblokade perairan Iran, termasuk Selat Hormuz, meski fakta di lapangan menunjukkan, Iran mampu melawan AS dan Israel, dan bahkan target Trump bahwa perang akan berakhir dalam beberapa hari dan pada saat itu pemerintahan Revolusi Iran telah digulingkan, gagal total. Fakta di lapangan bahkan menunjukkan kalau Iran sedang berada di atas angin, di mana kota-kota di Israel dihancurkan, dan aset-aset AS di Timur Tengah, termasuk pangkalan militernya, diluluhlantakkan.
Ketika terjadi gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon tercapai, Iran membuka Selat Hormuz, akan tetapi karena Trump tetap memblokade perairan Iran, Selat Hormuz kembali ditutup.
Melalui Pakistan, AS ingin mengajak Iran kembali berunding, akan tetapi Iran menolak karena telah mencium niat busuk AS, yakni ingin memenangkan perang melalui meja perundingan, setelah kalah di Medan pertempuran.
Iran saat ini sedang menyiapkan kejutan baru untuk menyongsong perang lanjutan yang akan terjadi selanjutnya.
Tasnim bahkan mengatakan, jika perangan benar-benar berlanjut, Iran akan menciptakan neraka bagi pasukan AS dan Israel. (man)







