Jakarta, Harian Umum - Jumlah korban tewas dan luka-luka akibat KRL Commuterline tujuan Cikarang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek jurusan Gambir-Surabaya Pasarturi di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4)2026) malam bertambah lagi.
"Luka-luka ada 76. Total korban 91 orang,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto , kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).
Artinya, 15 korban tewas. Bertambah 1 orang dibanding data pada Selasa pagi di mana korban tewas saat itu sebanyak 14 orang.
Dari ke-15 korban tewas, 10 di antaranya telah dapat diidentifikasi oleh tim gabungan dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri bersama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Kepala Biro Dokter Kepolisian Pusdokkes Polri, Nyoman Eddy Purnama Wirawan, menjelasskan bahwa identifikasi dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah yang menggabungkan data sidik jari, properti pribadi, serta pemeriksaan medis.
“Sebanyak 10 jenazah telah berhasil teridentifikasi,” katanya kepada wartawan.
Tim forensik melakukan identifikasi dengan pendekatan menyeluruh. Data primer seperti sidik jari menjadi acuan utama, sementara data sekunder berupa barang pribadi korban serta rekam medis digunakan sebagai pendukung. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan keakuratan identitas korban sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Berikut data korban tewas yang telah teridentifikasi;
1. Tutik Anitasari (31), Cikarang Barat, Bekasi
2. Harum Anjasari (27), Cipayung, Jakarta Timur 3. Nur Alimantun Citra Lestari (19), Pasar Jambi
4. Farida Utami (50), Cibitung, Bekasi
5. Vica Acnia Pratiwi (23), Cikarang Barat
6. Ida Nuraida (48), Cibitung, Bekasi
7. Gita Septia Wardany (20), Cibitung, Bekasi
8. Fatmawati Rahmayani (29), Bekasi Selatan, Kota Bekasi
9. Arinjani Novita Sari (25), Tambun Selatan, Bekasi
10. Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32), Tambun Selatan, Bekasi
Dipicu korsleting taksi listrik
Fakta Baru terungkap tentang penyebab kecelakaan maut itu Kepala Seksi Kumpul Olah dan Kaji Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, mengungkap bahwa sumber awal insiden ini berasal dari gangguan teknis yang dialami taksi listrik.
Korsleting terjadi saat taksi itu akan melintas di perlintasan Ampera, sehingga taksi itu berhenti mendadak di tengah perlintasan.
'"Kondisi ini menyebabkan tabrakan awal antara kereta api dengan kendaraan taksi. Meski insiden tersebut hanya menimbulkan kerugian material, dampaknya meluas ke sistem perjalanan kereta api lainnya," kata Shandi dikutip dari TVOnenews.
Akibat kejadian di perlintasan itu, perjalanan sejumlah kereta api mengalami gangguan. Salah satunya KRL Commuterline dengan tujuan Cikarang yang saat itu berhenti di jalur 2 untuk menurun dan menaikkan penumpang, dan tidak dapat langsung meneruskan perjalanan karena harus menunggu proses evakuasi kendaraan yang tersangkut di rel.
Dalam situasi tersebut, diduga terjadi miskomunikasi atau kurangnya koordinasi antarpetugas, sehingga informasi tidak tersampaikan secara menyeluruh kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek. Padahal, saat itu KA Argo Bromo Anggrek tengah melaju dengan kecepatan tinggi, sekitar 110 kilometer per jam.
“Akibat kurangnya informasi dan koordinasi, KA Argo Bromo Anggrek tidak mendapatkan informasi akurat, sehingga terjadi tabrakan di Stasiun Bekasi Timur,” jelas Sandhi.
Polres Metro Bekasi telah mengamankan pengemudi taksi listrik yang diduga menjadi pemicu awal kejadian. (man)







