Teheran, Harian Umum - Kehakiman Iran mengeksekusi tiga orang yang dihukum karena dinyatakan terbukti melakukan operasi yang menguntungkan Amerika Serikat dan Israel dalam demo besar-besaran yang diwarnai kerusuhan pada Januari 2026 lalu, serta membunuh dua orang polisi.
Eksekusi dengan cara digantung ini dilakukan di tengah perang antara Iran kontra AS-Israel yang telah memasuki hari ke-20.
“Tiga orang yang dihukum dalam kerusuhan Dey (Januari), atas tuduhan pembunuhan (polisi) dan tindakan operasional yang menguntungkan rezim Zionis dan Amerika Serikat, digantung pagi ini,” kata Mizan Online, website milik Kehakiman, Kamis (19/3/2026), dikutip dari Al Jazeera.
Pihak berwenang mengatakan, 3.117 orang tewas selama protes anti-pemerintah yang dimulai pada akhir Desember dan dicurigai didalangi Amerika itu, dan menolak pernyataan PBB serta organisasi hak asasi manusia internasional bahwa pasukan negara berada di balik pembunuhan tersebut, yang sebagian besar dilakukan pada tanggal 8 dan 9 Januari.
Pada bulan Februari, sebelum AS-Israel menyerang Iran, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mengatakan telah memverifikasi 6.872 kematian dan sedang menyelidiki lebih dari 11.000 kasus lainnya. Seorang pelapor khusus PBB mengatakan, jumlah korban tewas mungkin lebih tinggi dari 20.000 karena informasi terus bocor meskipun ada penyaringan internet yang ketat oleh Iran.
Sebelum mengeksekusi ketiga orang tersebut, pada awal pekan ini Iran mengeksekusi seorang pria berkewarganegarawn ganda, Iran-Swedia, bernama Kourosh Keyvani karena dinyatakan terbukti menjadi mata-mata bagi Israel.
Kevyani yang ditangkap pada bulan Juni 2025, dituduh memberikan gambar dan informasi tentang lokasi-lokasi sensitif Iran kepada Mossad selama Perang 12 Hari Iran-Israel. Ia ditangkap dengan uang tunai 30.000 euro, sebuah truk pikap, sebuah sepeda motor, berbagai perangkat mata-mata, intelijen & komunikasi satelit yang canggih.
Iran tangkap lagi ratusan pengkhianat
Al Jazeera juga melaporkan, pada Rabu (18/3/2026), pihak berwenang Iran mengumumkan bahwa pihaknya kembali menangkap ratusan orang di seluruh negeri, yang terlibat demonstrasi untuk menggulingkan pemerintah itu, yang mereka sebut sebagai "pengkhianat" yang bersekutu dengan kepentingan AS dan Israel.
Kementerian Intelijen menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 111 "sel pro-monarki" di 26 dari 31 provinsi Iran berhasil dihentikan dari melancarkan aksi-aksi yang menentang rezim teokratis, pada Selasa malam hingga Rabu.
Rezim teokratis adalah rezim dengan sistem yang dianut Iran saat ini, yang berdiri setelah menggulingkan monarki dukungan AS melalui revolusi Islam pada tahun 1979.
Pada tahun 2025, Iran mengeksekusi beberapa orang karena melakukan aktivitas mata-matai untuk Mossad, bersamaan dengan kebijakan Teheran memperluas penindakan terhadap para terduga kolaborator setelah perang 12 hari Israel-AS di Iran. (man)







