Teheran, Harian Umum - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembunuhan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, oleh Israel pada Senin (16/3/2026) malam tidak akan memberikan pukulan fatal bagi kepemimpinan Iran.
"Karena pemerintah Iran tidak bergantung pada satu individu saja," kata Araghchi seperti dilansir Al Jazeera, Rabu (18/3/2026).
Ali Larijani yang martir pada usia 67 tahun, merupakan salah satu sosok berpengaruh di Iran, karena dia merupakan tokoh paling senior dalam jajaran pemerintahan Iran.
Selain itu, Ali juga merupakan orang kepercayaan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas saat AS-Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari 2026 lalu, dan juga merupakan orang kepercayaan Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei, pimpinan tertinggi revolusi Iran yang baru sebagai pengganti Ali Khamenei, yang juga merupakan putra kedua almarhum Ayatollah Ali Khamenei.
Ketika Ali Khamenei tewas, Presiden AS Donald Trump sesumbar bahwa pemerintahan Iran melemah dan akan segera menyerah, akan tetapi Trump keliru karena hingga hari ini yang merupakan hari ke-19 perang AS-Israel Vs Iran, Iran semakin tangguh, sementara Israel dibuat hancur-hancuran oleh tembakan-tembakan rudal Iran yang berteknologi tinggi, dan AS terjepit karena Iran mengendalikan Selat Ormuz, sehingga kapal-kapal tanker pengangkut minyaknya tidak dapat melalui selat yang memasok 20% kebutuhan minyak dan gas cair dunia itu. Ketika Trump mengerahkan Kapal Induk Abraham Lincoln untuk melakukan pengawalan di Selat Hormuz, Iran merudal kapal itu hingga terbakar hebat, dan lari terbirit-birit.
Trump sempat meminta bantuan negara-negara sekutunya untuk ikut melakukan pengawalan di Selat Hormuz, tetapi negara-negara itu, seperti Jerman, Inggris, Prancis, Italia dan Jepang, menolak karena ketika Trump akan menyerang Iran, Trump tidak berkonsultasi dahulu dengan mereka dan semata-mata hanya mengikuti kemauan Israel.
Pembunuhan Ali Larijani merupakan bagian dari upaya AS-Israel untuk melemahkan Iran.
'Saya tidak tahu mengapa Amerika dan Israel masih belum memahami poin ini: Republik Islam Iran memiliki struktur politik yang kuat dengan lembaga politik, ekonomi, dan sosial yang mapan. Kehadiran atau ketidakhadiran satu individu tidak memengaruhi struktur ini,' kata Araghchi.
Ia mengakui kalau setia individu dalam pemerintahan Iran memiliki pengaruh, dan setiap dari mereka memainkan peranannya, di mana beberapa ada yang berperan dengan lebih baik dan beberapa sebaliknya.
"Tetapi yang penting adalah sistem politik di Iran merupakan struktur yang sangat kokoh," tegas Arghchi.
Ia menunjuk pada pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, dan menegaskan bahwa meskipun kerugian nasional sangat besar, akan tetapi sistem tetap berjalan.
"Kita belum pernah memiliki siapa pun yang lebih penting daripada pemimpin itu sendiri, dan bahkan pemimpin pun gugur sebagai martir, namun sistem tetap berjalan dan segera menyediakan pengganti," imbuh dia.
Ia bahkan mengatakan, dalam sistem pemerintahan Iran, siapapun yang gugur sebagai martir, tidak ada bedanya karena segera akan ada yang menggantikannya.
"Jika menteri luar negeri gugur sebagai martir, pada akhirnya akan ada orang lain yang mengambil alih posisi tersebut,' katanya.
Selama perang AS-Israel Vs Iran berlangsung, Iran telah kehilangan banyak tokoh penting. Bersama tewas ya Ali Khamenei pada tanggal 28 Februari, sekitar 40 pejabat penting di Iran juga tewas.
Setelah meninggalnya Ali Larijani pada Senin yang baru dikonfirmasi Iran pada Rabu, pada Selasa (17/3/2026), Iran juga mengonfirmasi tewasnya Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan Basij Iran, sebuah kelompok paramiliter di dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Soleimani bahkan disebut-sebut merupakan pemimpin kunci dalam perlawanan Iran terhadap AS-Israel di Iran.
Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, mengatakan Israel telah lama terlibat dalam pembunuhan terhadap lawan politiknya, yang bukanlah praktik normal dalam peperangan.
“Dalam perang, Anda tidak memulai dengan membunuh para pemimpin politik, termasuk para pemimpin terpilih. Program pembunuhan itu adalah tindakan gangster, itu terorisme, itu bukan norma perang,” katanya.
Bishara mengatakan, meskipun “sistem di Iran kuat dan pembunuhan seorang pemimpin tidak akan menyebabkan runtuhnya sistem”, pembunuhan yang ditargetkan seperti itu memang berdampak dalam hal “perubahan kuantitatif mengarah pada perubahan kualitatif”.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi kembali mengatakan bahwa konflik yang semakin meningkat di wilayah Teluk dan sekitarnya bukanlah pilihan Teheran, dan AS pada akhirnya harus bertanggung jawab.
“Saya akan mengulangi: Perang ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya, Amerika Serikat lh yang memulainya dan bertanggung jawab atas semua konsekuensi perang ini – baik dari segi kemanusiaan maupun finansial – baik bagi Iran, bagi kawasan, maupun bagi seluruh dunia,” katanya.
“Amerika Serikat harus dimintai pertanggungjawabannya,” tegas Arghchi. (man)







