Teheran, Harian Umum - Iran mengancam akan memberikan konsekuensi yang berat jika Presiden AS Donald Trump melakukan kesalahan selama gencatan senjata berlangsung.
Sebagaimana diposting Trump di akun Truth Social-nya, gencatan senjata itu berlaku sejak Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 zona waktu Eastern Time (ET) pesisir timur AS, alias pada Rabu (8/3/2026) pukul 3.30 waktu Teheran, atau Rabu pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), dan hingga dua pekan ke depan.
"Jika Presiden AS melakukan kesalahan, Iran tidak akan ragu untuk memberikan konsekuensi berat kepada Amerika Serikat dan para mitranya," kata seorang pejabat militer Iran kepada Tasnim News Agency dikutip Rabu (8/4/2026).
Pernyataan itu disampaikan karena Iran menilai bahwa Trump adalah sosok yang kurang bisa dipercaya dan juga suka gila-gilaan..Hal itu merujuk pada fakta bahwa Trump pernah berkali-kali mengaku sedang melakukan pembicaraan dengan Iran, padahal pembicaraan itu tidak.
Trump juga berkali-kali mengancam Iran, terakhir mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka, akan tetapi ancaman itupun hanya omong kosong. Bahkan alih-alih merealisasikan ancaman, Trump justru menyetujui 10 poin yang diajukan Iran jika mamang ingin mengakhiri perang.
Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu menduga, Trump mengancam lebih disebabkan oleh keputusasaan dan ketidakberdayaannya, serta otoritas Iran di lapangan daripada inisiatif dan kekuatannya.
“Tetapi jika Trump ingin jatuh dari satu lubang ke lubang lain dengan kegilaannya, kami telah menyiapkan lubang hitam untuknya yang darinya tidak mungkin baginya untuk keluar," kata pejabat itu.
Pejabat yang oleh Tasnim hanya disebut sebagai narasumber itu menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan beberapa kejutan menyenangkan jika Trump kembali menunjukkan "kegilaannya", salah satunya adalah dengan menambahkan fasilitas minyak Aramco, fasilitas minyak Yanbu, dan pipa Fujairah ke daftar target yang akan diserang Iran.
"Dan jika Trump melakukan kejahatan, Iran tidak akan ragu untuk memberikan konsekuensi berat kepada Amerika Serikat dan para mitranya," tegas dia.
Narasumber ini mengatakan, jika Trump berpikir bahwa dengan ancaman-ancamannya Iran akan membuka Selat Hormuz dan harga minyak akan turun, dia keliru.
“Dia tidak tahu bahwa jika dia melaksanakan ancamannya, dia harus menyaksikan harga minyak mencapai $200 dalam beberapa hari mendatang," tegasnya. (man)


