Teheran, Harian Umum - Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah sempat membukanya, menyusul ditandatanganinya memorandum of understanding (MoU) Islamabad antara Iran dan Amerika Serikat (AS) secara digital, Kamis (18/6/2026).
Selat yang menjadi jalur distribusi seperlima kebutuhan minyak global itu kembali ditutup karena AS dinilai gagal memenuhi komitmen pada klausul pertama MoU.
Klausul pertama MoU tersebut berbunyi; "Republik Islam Iran dan Amerika Serikat serta sekutu mereka dalam perang saat ini menandatangani MoU ini untuk menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon, dan berjanji mulai sekarang untuk tidak memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain, dan untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain, dan memastikan integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon. Kesepakatan akhir akan mengkonfirmasi penghentian permanen perang di semua front, termasuk di Lebanon dan ketentuan lain dari paragraf ini".
"Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk semua lalu lintas kapal, dengan alasan karena Amerika gagal menerapkan klausul pertama dari nota kesepahaman," kata Fars News dikutip Minggu (21/6/2026), merujuk pada pernyataan resmi Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya juga mengatakan bahwa penutupan Selat Hormuz itu sebagai respon terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Israel atas gencatan senjata yang disepakati antara Israel dengan Lebanon.
Seperti diketahui, perang antara AS dan Israel kontra Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026, terjadi atas provokasi PM Israel Benjamin Netanyahu, dan kedua negara itu melakukan agresi tanpa ada provokasi apapun dari Iran, karena tujuan utamanua adalah untuk menggulingkan pemerintahan Revolusi Islam yang sedang berkuasa.
Karena hal ini, maka Iran beranggapan bahwa AS punya kewajiban menghentikan serangan Israel ke Lebanon, akan tetapi serangan itu terus berlanjut, sehingga AS dianggap gagal memenuhi klausul pertama dalam MoU Islamabad.
Markas Besar Khatam al-Anbiya juga menyoroti pembunuhan brutal dan pengusiran ratusan ribu warga sipil Lebanon oleh tentara Israel.
"Ini adalah langkah pertama sebagai respons terhadap pelanggaran komitmen dalam MoU. Jika agresi Israel di Lebanon berlanjut, langkah-langkah selanjutnya telah direncanakan dan akan dilaksanakan untuk memaksa musuh," tegas Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya sebagaimana dikutip Fars. (man)







