Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah terhadap dolar AS melemah pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (29/5/2026), dan berpotensi bergerak menuju batas psikologis baru di Rp18.000/dolar AS.
Rupiah dibuka menguat 31,8 poin atau 0,18% dari penutupan Kamis (28/5/2026) yang berada di Rp17.865/dolar AS, sehingga mulai diperdagangkan pada posisi Rp17.816/dolar AS.
Rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.772/dolar AS pada sesi perdagangan pagi dan menjadi level terkuatnya hari ini, akan tetapi kemudian terus terkoreksi hingga sempat jatuh ke posisi Rp17.903/dolar AS yang menjadi level terlemahnya hari ini.
Ketika perdagangan ditutup, posisi rupiah menurut Bloomberg terpantau berada di Rp17.880/dolar AS karena terkoreksi 35 poin atau 0,20%.
Investing mencatat, dalam sepekan ini rupiah telah terkoreksi 1,12%, sementara dalam 1 bulan terakhir, rupiah telah melemah 3,55%.
Dikutip dari bisnis.com, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi mendekati level Rp18.000/dolar AS setelah mata uang Garuda itu melemah dalam perdagangan offshore.
Menurut Ibrahim, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu lonjakan permintaan aset safe haven dan mendorong penguatan dolar AS. Apalagi karena serangan AS ke Iran pada Senin dan Kamis telah meningkatkan lagi ketegangan karena berpotensi memicu balasan yang lebih besar dari Teheran.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Dia menilai risiko gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah turut mendorong harga minyak dunia melonjak. Harga minyak WTI disebut sudah bergerak mendekati US$96 per barel akibat kekhawatiran terhadap situasi di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak tersebut dinilai memperbesar tekanan inflasi global, sekaligus meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia. Kondisi itu pada akhirnya memperbesar permintaan dolar AS di pasar domestik.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menyoroti sejumlah persoalan domestik yang dinilai turut memperburuk tekanan terhadap rupiah, mulai dari tingginya impor minyak, pembayaran dividen, perpindahan dana masyarakat ke aset dolar AS, hingga besarnya kewajiban utang jatuh tempo pemerintah dan korporasi.
Dia juga menyinggung kekhawatiran investor asing terhadap tata kelola sejumlah program pemerintah yang dinilai belum efektif, sehingga memicu arus modal keluar dari pasar domestik.
“Arus modal asing keluar cukup deras pada masa libur panjang ini, sementara Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi secara terbatas,” ujarnya.
Di sisi lain, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve juga dinilai masih menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Pernyataan pejabat The Fed yang kembali menyoroti risiko inflasi memunculkan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Ibrahim mengatakan, kondisi tersebut memperkuat indeks dolar AS dan mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang. (man)







