SUDAH TERBAYANG, bagaimana Indonesia di bawah Prabowo... Bukan Bowo yang berkuasa, melainkan Jokowi di belakangnya. Jokowi sengaja "memajang" dan "memborgol" Bowo untuk menyelesaikan segala "kontraknya" dengan Xi Jinping.
---------------------------------
Oleh: Sri-Bintang Pamungkas
Presidium Hizbullah Indonesia
Kami bukan kelompok Copras-capres, apalagi mendukung salah satunya. Karena, agenda Copras-capres 2024 adalah rancangan PKI Gaya Baru.
Seperti sudah kami jelaskan, PKI Gaya Baru menghendaki hancur dan hilangnya Republik Proklamasi 17 Agustus 1945, yaitu dengan mengubah Konstitusi 1945 menjadi UUD 2002.
Penghancuran terhadap Republik Proklamasi 1945 serta cita-cita Prokamasi ini didukung oleh PKI bersama-sama RRC dan Amerika Serikat (AS) berikut aliansinya di Eropa Barat dan lain-lain, khususnya Kelompok G-7.
Sudah sejak Proklamasi Kemerdekaan, para kolonialis dan imperialis tersebut menolak NKRI 1945 yang merdeka dan berdaulat. Bersama mereka adalah juga para Pengkhianat Domestik yang tidak setia kepada NKRI 1945.
Kami tidak memusuhi siapa pun rakyat Indonesia, karena kami sendiri adalah bagian dari bangsa Indonesia... sekalipun sebagian dari mereka melawan kami.
Kami pun tidak memusuhi mereka yang hanya sekedar Warga Negara Indonesia yang hak-hak dan kewajibannya tertulis jelas di dalam UUD 1945.
Akan tetapi tidak bisa dihindarkan bahwa mereka, Rezim PKI Gaya Baru yang sekarang berkuasa beserta para pengikut dan pendukungnya, terpaksa menjadi Musuh Politik kami: Kami bermaksud mempertahankan UUD Proklamasi 1945, tetapi mereka justru mau menghancurkannya!
Kami sudah menduga begitulah Putusan Mahkamah Konstitusi atas Pilpres 24 kemarin, karena MK adalah produk UUD 2002 dan merupakan bagian dari Rezim PKI Gaya Baru... Sekalipun MK mengira "netral", tidak berpihak kepada Penggugat ataupun Tergugat, akan tetapi tetap saja mereka adalah PKI Gaya Baru.
Akibatnya, Putusan MK itu diambil-alih oleh KPU yang ĵuga bagian dari Rezim PKI Gaya Baru. Baik MK maupun KPU tidak mempunyai legitimasi memilih Presiden, melainkan MPR...
Terserah kepada Bowo dan si Bocil... Kalau mereka mau melanjutkan kebijakan Rezim Jokowi sebagai Penguasa PKI Gaya Baru, maka terpaksa mereka menjadi Musuh Politik kami... Kami akan berjuang melawan dan menjatuhkan mereka semampu kami, bahkan sebelum Bowo dilantik.
Sudah terbayang, bagaimana Indonesia di bawah Prabowo... Bukan Bowo yang berkuasa, melainkan Jokowi di belakangnya. Jokowi sengaja "memajang" dan "memborgol" Bowo untuk menyelesaikan segala "kontraknya" dengan Xi Jinping... sekaligus menjadikan Bowo "Juru Selamat" bagi dirinya sekiranya terpaksa... Jangan berharap samasekali, bahwa Rakyat, Bangsa dan Negara akan menjadi perhatian mereka... Duapuluh tahun sudah terbukti...
Tidak terlintas dalam otak waras, ada seorang macam Jokowi. Dia bisa memberi "angin sorga" kepada AS dan RRC sekaligus untuk menguasai Republik Indonesia... Hanya seorang maniak yang sakit jiwanya (schizophrenia) yang bisa berpikir dan berbuat seperti itu. Secara kebetulan, Bowo (dan Megawati) juga punya sakit jiwa yang sama... Republik Indonesia harus mencari Sosok Pemimpin lain...
Dalam pikiran Bung Karno dan Bung Hatta tidak terlintas orang militer yang akan memimpin Republik Indonesia. Bahkan, mereka juga yg melahirkan TNI. Tugas mereka lain... tidak untuk menata Negara! Sekalipun demikian, mereka tahu bahwa orang-orang Sipil pun tidak selalu bisa menjadi jaminan... Lihat saja Habibie, Gus Dur, Mega dan Jokowi... Apa hasil mereka... selain menambah parahnya hidup...
Sedangkan kita, yang hanya rakyat, sekalipun merdeka dan berdaulat, melihat perlunya sosok Soeharto pasca Perang Saudara 1965. Soekarno dg SP 11 Maret-nya pun punya pandangan sama... Hanya saja Soeharto _mbablas_ sendiri... merasa kenikmatan selama 30 tahun lebih. Jenderal Eisenhower dan De Gaule juga dibutuhkan pasca PD II... tapi mereka tahu diri... Itulah yang salah dari kita... Lalu muncul kesalahan-kesalahan baru... sampai sekarang.
Tidak seperti Rezim-rezim sekarang, Soeharto dikelilingi orang-orang hebat, para Teknokrat sekaliber Widjojo Nitisastro, Ali Wardana, Emil Salim dan lain2. Tapi para Mafia Berkeley ini sejak awal sudah tidak setuju dengan Pasal 33... _(the Socio-Economic Basic of the Indonesian State, Cornell U., 1955)_. Mereka lebih mengedepankan Pertumbuhan Pendapatan Rata-rata _(average income growth)_ daripada Pemerataan Pendapatan _(income distribution)_. Hasil IGGI dan CGI adalah buktinya. Akibatnya, kita terlilit Utang Luar Negeri yang semakin besar nyaris tidak terbayarkan, sementara nilai Rupiah terus-menerus tergerus. Semakin banyak Rakyat yang melarat dan teraniaya... dan terbuang!
Tidak saja Rezim-rezim baru sesudah itu mengekor kesalahan Rezim Soeharto, bahkan UUD 1945 pun diubahnya... Pasal 33 pun dijadikannya pasal liberalis, kapitalis dan kolonialis... menghilangkan Asas Kekeluargaan dan Pancasila. Entah masih adakah harapan rakyat akan datangnya masyarakat Adil dan Makmur...
Entah masih adakah harapan datangnya Ratu Adil yang membawa kesejahteraan dan keadilan... Ratu Adil adalah legenda yang hidup di kalangan rakyat lapisan bawah sejak ratusan tahun lalu... Penjajahan Belanda mendorong para sesepuh, lalu Kyai dan Ulama... untuk menasihati para Cantrik dan generasi mudanya agar bersabar dan bertawakal menunggu datangnya perubahan dari Yang Maha Kuasa... yang akan mendatangkan Ratu Adil... Pemimpin yang bijaksana yang membawa dan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua...
Kini sudah 80 tahun Indonesia Merdeka... Saatnya Ratu Adil kita lahirkan bersama Ibu Pertiwi. Soeharto, dan juga Rezim yang sekarang, telah salah menilai kemampuan sumberdaya manusia. Yang dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya itu, seharusnya bisa mengubah Bumi, Air dan Kekayaan Alam yang terkandung di dalamnya menjadi Kemakmuran Besar bagi seluruh Rakyat...Rakyat Indonesia!
Ketika Marsinah, Perempuan Kecil dari Sidoarjo itu menyerukan perlunya memberikan nilai lebih kepada manusia Indonesia, dia dibunuh, dicincang tubuhnya, lalu dibuang entah di mana jasadnya...
Lain dengan mereka yang ada di Belahan Bumi yang maju... manusia dihargai sangat tinggi, sehingga mereka pun mampu membikin mesin, berbagai alat, termasuk alat-alat perang... Bahkan dengan itu mereka seperti bisa menguasai Dunia. Sementara manusia Indonesia baru bisa mengais-ngais sampah.... dan sudah puas memegang HP Samsung...
Sudah saatnya kita mengubah cara berpikir para Mafia Berkeley... dan Sri Mulyani... Sang Ratu Adil harus kita lahirkan... Sekarang!


