Washington, Harian Umum - Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan “Proyek Freedom,” sebuah proyek yang bertujuan untuk mengawal kapal-kapal yang tertahan di Teluk Persia dan Laut Oman karena tidak bisa melewati Selat Hormuz.
Trump awalnya mengumumkan bahwa proyek yang dilaksanakan Angkatan Laut AS itu mulai dilakukan Senin (4/5/2026).
Namun, meski baru 48 jam diumumkan, melalui akun Truth Social-nya, Trump menyampaikan bahwa proyek itu ditangguhkan dengan alasan karena ada upaya yang sedang dilakukan, yang berotensi mencapai kesepakatan dengan Iran.
Di akun itu, Trump bahkan menggambarkan kalau keputusan penangguhan tersebut sebagai bagian dari kemajuan diplomatik, dan “kemajuan besar” telah dicapai dalam pembicaraan dengan perwakilan Iran.
Penangguhan itu bahkan katanya dilakukan atas permintaan Pakistan dan negara-negara lain.
“Proyek Freedom… akan ditangguhkan untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah Perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani,” tulis Trump dikutip dari Al Mayadeen, Rabu (6/5/2026).
Namun, meski menangguhkan Proyek Kebebasan, Trump mengatakan bahwa blokade terhadap perairan Iran tetap berlaku sepenuhnya.
Al Mayadeen mengabarkan, penangguhan Proyek Kebebasan yang hanya seumur jagung itu menimbulkan tanda tanya, bahkan keraguan, apakah proyek itu memang dilaksanakan?
Meskipun Washington mengklaim akan menjamin jalur maritim yang aman dengan proyek itu, sumber-sumber regional dan maritim mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa selama dua hari terakhir tidak ada operasi pengawalan oleh militer AS di Selat Hormuz.
Tak hanya itu, IRGC juga mengatakan, klaim AS tentang adanya kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, hanya klaim tanpa dasar dan dibuat-buat. Sebab, setiap pergerakan maritim dari negara non sahabat Iran yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh angkatan laut IRGC, akan dihentikan secara paksa, bahkan ditembak jika membandel.
Namun, hal itu sama sekali tidak ada dan tidak terjadi.
Sebelumnya, Pusat Komando (Centcom) AS mengklaim bahwa kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS yang saat ini beroperasi di Teluk Arab, telah melintasi Selat Hormuz untuk mencapai teluk tersebut. Kapal perusak itu didatangkan untuk mendukung "Proyek Kebebasan".
Al Mayadeen juga melaporkan bahwa blokade yang tidak dicabut Trump, meski Proyek Kebebasan ditangguhkan, ditafsirkan sebagai penarikan taktis dari proyek yang kurang berhasil itu dibanding de-eskalasi yang sebenarnya, terutama karena blokade terus membatasi aktivitas maritim Iran.
Penangguhan Proyek Kebebasan terjadi ketika negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran terus berlanjut, dilaporkan dengan upaya mediasi yang melibatkan Pakistan.
Namun, pernyataan Trump telah menimbulkan keraguan tentang prospek kesepakatan, dengan Trump yang berulang kali mengatakan bahwa Iran belum "membayar harga yang cukup besar," bahkan ketika ia menunjuk pada kemajuan diplomatik yang seharusnya terjadi.
Terlepas dari deklarasi kemenangannya, Trump mengakui bahwa pertempuran dapat berlanjut selama "mungkin dua minggu lagi" atau "mungkin tiga minggu".
"Waktu bukanlah hal yang penting bagi kami," kata Trump.
Sebelumnya, Iran membongkar trik busuk Trump yang mengklaim bahwa tentaranya telah menembak enam kapal cepat IRGC, akan tetapi IRGC langsung membantah kalau kapal cepatnya tidak ada yang ditembaki.
IRGC kemudian mengungkap bahwa yang ditembak militer AS adalah dua kapal kargo kecil milik sipil yang mengangkut orang. Kapal.itu tengah bergerak dari Khasab di pantai Oman.
Akibat penembakan itu, lima penumpang tewas. (man)







