Jakarta, Harian Umum - Dewasa ini, jumlah pengguna Media sosial (medsos) semakin meningkat dan terus bertambah. Tak heran jika medsos kerap digunakan untuk kepentingan kampanye pada perhelatan politik seperti Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), Pileg (Pemilihan Calon Legislatif) dan Pilpres (Pemilihan Presiden).
Pengamat Politik Effendi Gozhali mengatakan, peran Medsos sangat berpengaruh pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta. Sejumlah isu-isu yang di posting oleh tim medsos paslon (pasangan calon) baik negatif maupun positif berdampak pada perolehan suara.
"Di Jakarta banyak warga memiliki lebih dari satu smartphone, dan kebanyakan doyan ngobrol. Tak heran jumlah pengguna medsos makin bertambah. Makanya pada putaran pertama, medsos punya pengaruh untuk mendongkrak perolehan suara paslon," kata Effendi saat menjadi pembicara diskusi publik dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-56 Universitas Prof DR Moestopo (Beragama) dengan tema "Demokrasi Kebangsaan di Republik Sosial Media", di Bokoel Caffe Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (23/3).
Namun menurut Effendi menjelang pelaksanaan putaran kedua, pengguna medsos mulai jenuh dengan isu-isu terkait paslon.
"Saya melihat ada kecendrungan pengguna medsos mulai jenuh dengan isu-isu di medsos. Pasalnya warga disuguhkan dengan isu saling serang dan menjatuhkan. Dengan disuguhkan cara yang itu-itu terus, masyarakat mulai capek," ujar Effendi.
Kejenuhan warga semakin bertambah Effendi melanjutkan, saat melihat cara-cara kampanye yang sudah tidak elok lagi bahkan cenderung brutal. Bahkan menurut Effendi Pilkada DKI kali ini adalah Pilkada terbrutal dibanding perhelatan-perhelatan sebelumnya. "Saya bilang Pilkada DKI itu “luber” , tapi menurut saya bukan arti kata luber dari langsung umum bebas dan rahasia, tetapi langsung umum dan brutal," tutur Effendi.
Diskusi yang dimoderatori Syaifulah dibuka Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Dr dr Paulus Yanuar mewakili Rektor. “Dalam rangka Dies Natalis ke-56 kami memilih melaksanakan diskusi publik bertemakan Pilkada DKI karena moment ini paling hangat saat ini. Kami ingin memberikan sesuatu kepada masyarakat Jakarta melalui diskusi ini,” kata Paulus Yanuar.







