DENGAN akal sehat pasti akan berpendapat; sepi kampanye pasti sepi suara di TPS, tapi kalau sepi kampanye dan suara tinggi di TPS dipastikan itu pesanan Istana.
------------------------------
Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerapakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu
Sejak sebelum kampanye Pilpres sampai dengan saat ini di mana kampanye sedang berlangsung, kampanye. Pasangan 02 sepi di berbagai daerah. Bahkan saat Capres 02 naik panggung, massa berteriak "Anies presiden!'
Itu beberapa fakta yang viral di berbagai platform Medsos.
Tapi ada lembaga survei yang klaim Capres 02 tertinggi ratingnya di banding Paslon 01 dan 03.
Publik lalu mencoba mencari tahu apa alasannya kalau saat kampanye sepi dari massa dan tidak meriah, lalu darimana klaim akan menang satu putaran dengan perolehan suara tertinggi?
Bahkan sebuah lembaga survei klaim 02 berada di puncak survei dengan peroleh suara 52,%?
Publik kritis meragukan survei tersebut. Lembaganya dianggap sebagai lembaga SurePay, survei berbayar yang bikin senang si pemesan.
Logika publik menggugat hasil survei tersebut; surveinya di mana?
Publik lalu bertanya; apakah hasil survei berbayar itu akan dijadikan patokan oleh KPU untuk memenangkan 02?
Jika demikian terjadi, dipastikan terjadi konspirasi jahat antara lembaga survei dan KPU. Publik pasti menolak itu.
Loh, wong kampanye sepi kok survei tinggi dan dimenangkan oleh KPU?
Lantas KPU ambil dari mana tingginya suara pilihan dan rating survei?
Publik akan menganggap anggap, jika hasil demikian dipastikan itu kecurangan masif, terstruktur dan sistematis. Yang melibatkan jajaran aparatur pemerintah.
Apalagi presiden Joko Widodo telah nyatakan cawe-cawe dan akan kampanye dukung Paslon di mana puteranya sebagai Cawapres, dan menyatakan memihak.
Dengan akal sehat pasti akan berpendapat; sepi kampanye pasti sepi suara di TPS, tapi kalau sepi kampanye dan suara tinggi di TPS dipastikan itu pesanan Istana. Karena itu pesanan, dipastikan itu pasti manipulasi suara.
Lembaga survei yang bikin survei dengan mematok tinggi hasil survei pada pasangan yang sepi massa saat kampanye, itu kejahatan dan penipuan publik dan patut dipidana.
Karena survei demikian adalah penggiringan opini untuk lakukan penipuan publik.
Jadi, setop lakukan survei rekayasa untuk lakukan penipuan publik. Rakyat sudah semakin cerdas. Setop lakukan kebohongan dan pembodohan.
Rakyat akal sehat tidak akan tertipu berkali-kali.







