Jakarta, Harian Umum - Kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Jalan Kutai Utara No. 1 mendadak viral setelah ditandai dengan nama "Tembok Ratapan Solo" di Google Maps.
Nama lokasi tersebut muncul tepat di atas lokasi rumah Jokowi yang berada di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo.
Fenomena ini terasa makin aneh dengan adanya postingan akun Instagram @indopium yang memperlihatkan gambar seorang pemuda yang seolah tengah meratap di depan pintu gerbang rumah Jokowi.
"Tembok Ratapan di Solo kini jadi salah satu spot paling hype buat anak muda Gen Z," kata akun itu dikutip Senin (16/2/2026).
Tembok ratapan atau Western Wall/Kotel adalah situs paling suci bagi umat Yahudi di Kota Lama Yerusalem, berupa sisa dinding penopang Bait Suci Kedua yang dibangun Raja Herodes. Tempat ini menjadi pusat ziarah dan doa, di mana umat menyisipkan kertas doa di celah batu, melambangkan kerinduan akan pemulihan Bait Suci. Lokasinya berdekatan dengan area Masjidil Aqsa.
Masih tidak jelas apa yang menyebabkan rumah Jokowi dinamai dengan nama yang mirip dengan situs suci umat Yahudi, akan tetapi sebagaimana kita tahu, pada tahun 2015 lalu publik digegerkan oleh adanya gambar mata satu (all eye seeing) di Kafe Markobar milik Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang kini menjabat sebagai Wapres.
Simbol mata satu merupakan salah satu simbol Freemasonry, salah satu kelompok persaudaraan kuno sekelompok umat Yahudi yang bersama Iluminati dan induk kelompoknya, Zionis Internasional, berambisi menciptakan Tatanan Dunia Baru atau New World Order di mana mereka sebagai penguasanya.
Tak hanya itu, istri Jokowi, yaitu Iriana, ditengarai merupakan anggota Rotary Club, sebuah organisasi yang juga menginduk pada Zionis Internasional.
Belum cukup hanya sampai di situ, ketika desain Ibukota Nusantara (IKN) dirilis tahun 2022, ditemukan banyak simbol Freemason pada proyek yang digagas Jokowi itu, karena selain ada simbol mata satu, juga ada simbol Freemason yang lain seperti Obeliak dan Bintang David.
Dilansir detikJateng, ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, mengaku sudah mengetahui adanya penamaan unik tersebut di platform digital. Namun, ia tidak bisa memastikan apakah Jokowi sudah mengetahui hal tersebut atau belum.
"Ya, saya sudah tahu. Enggak tahu Bapak sudah tahu apa belum ya," katanya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan untuk meminta perubahan nama di Google Maps, Syarif enggan berkomentar banyak. Ia pribadi mengaku tidak merasa tersinggung dengan label tersebut. (rhm)







