Teheran, Harian Umum - Iran mendapatkan dana dari pihak swasta senilai $300 miliar untuk memicu investasi di negara itu.
Kucuran dana itu diuraikan dalam kerangka perjanjian AS-Iran yang rencananya akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6/2026), dan setengah dari dana itu telah dikucurkan.
Hal itu diungkap Reuters mengutip seorang sumber yang mengetahui persis soal kesepakatan tersebut.
"Sebuah dana swasta senilai $300 miliar yang dirancang untuk memicu investasi ke Iran diuraikan dalam kerangka perjanjian AS-Iran dan lebih dari setengah jumlah tersebut telah dikucurkan," kata Reuters dikutip dari Al Arabiya, Rabu (17/6/2026), berdasarkan keterangan sumber tersebut.
Sumber menjelaskan, dana tersebut dirancang untuk memberikan insentif ekonomi kepada kedua belah pihak (AS dan Iran) untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang.
"Dana ini merupakan wahana investasi swasta, bukan program rekonstruksi atau reparasi, dan tidak akan mencakup uang atau hibah pemerintah," imbuh sumber tersebut.
Ia menambahkan, dana itu antara lain bersumber dari perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, negara-negara Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika yang telah setuju untuk berkomitmen memberikan pendanaan.
"Investasi yang dijanjikan mencakup sektor energi, logistik, manufaktur, dan transportasi," jelas sumber itu lagi.
Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran awalnya meminta $400 miliar sebagai kompensasi atas kerusakan perang dari AS, tetapi Washington mengatakan tidak akan memberikannya.
Kemudian muncul ide untuk dana tersebut, yang akan dinamai Dana Rekonstruksi dan Pembangunan.
"Mekanisme tersebut membayangkan berbagai cara kontribusi," kata sumber Iran tersebut.
Ini, lanjut dia, termasuk pengamanan pinjaman, pembentukan jalur kredit, atau pembiayaan langsung untuk rekonstruksi lokasi yang rusak akibat perang, termasuk fasilitas seperti kompleks baja Mobarakeh, kilang minyak, bandara, dan, secara lebih luas, infrastruktur yang terkena dampak konflik.
Iran, salah satu ekonomi terbesar di Timur Tengah, hampir tidak menarik investasi asing langsung yang signifikan dalam empat dekade terakhir, terpinggirkan dari pasar modal global oleh gelombang sanksi AS dan internasional yang berturut-turut.
Negara ini memiliki cadangan gas alam terbukti terbesar kedua di dunia dan cadangan minyak terbukti terbesar keempat. Negara ini juga memiliki populasi muda dan terdidik lebih dari 92 juta orang, basis industri yang beragam, dan potensi yang belum dimanfaatkan secara signifikan di berbagai sektor, mulai dari petrokimia dan pertambangan hingga pariwisata dan pertanian.
"Dana investasi ini sepenuhnya terpisah dari jalur negosiasi paralel mengenai pencabutan sanksi AS dan pelepasan aset kedaulatan Iran yang dibekukan di luar negeri, kata sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut.
Ia menggambarkan keduanya sebagai mekanisme keuangan yang berbeda dengan tujuan dan jangka waktu yang berbeda.
Dana tersebut tidak akan dibuat atau dioperasikan sampai kesepakatan akhir dan memuaskan tercapai. Nota kesepahaman, setelah ditandatangani, dimaksudkan untuk mengatur proses selama 60 hari ke depan.
“Dana itu hanya akan dibuat setelah kesepakatan akhir ditandatangani,” kata sumber tersebut.
“Selama 60 hari ini, pengelola dana akan bekerja sama dengan warga Iran dan investor untuk merencanakan dan menentukan ruang lingkup proyek," imbuh dia.
Kementerian Luar Negeri Iran dan Kementerian Luar Negeri Pakistan, yang membantu menengahi kesepakatan dana investasi tersebut, belum merespon permintaan konfirmasi Reuters. (man)







