Teheran, Harian Umum - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memberikan peringatan yang dapat menggetarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, karena menunjukkan bahwa sejak kedua negara itu menyerang Iran pada tanggal 28 Februari, Negeri Para Mullah itu belum menunjukkan kekuatan militernya secara maksimal.
Peringatan itu disampaikan si tengah blokade yang dilakukan AS terhadap arus maritim Iran yang berarti juga memblokade Selat Hormuz, sejak Senin (13/4/2026).
"Kami belum mengungkapkan banyak kemampuan kami. Jika perang berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang tidak pernah dibayangkan musuh,' kata Juru Bicara IRGC, Jenderal Hossein Mohebbi, dikutip dari Tasnim News Agency, Selasa (14/4/2026).
Mohebbi tidak menjelaskan kemampuan seperti apa yang dimaksud, akan tetapi dia mengatakan bahwa kemampuan itu takkan mampu dilawan AS dan Israel.
"Kami akan memamerkan metode pertempuran yang tidak akan mampu dilawan musuh secara signifikan terhadap pendekatan baru kami," katanya.
Seperti diketahui, AS memblokade arus maritim Iran setelah gagal memaksa Iran menerima syarat yang diajukannya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata, saat negosiasi di Islamabad, Sabtu (11/4/2026).
Syarat yang ditolak Iran di antaranya adalah bahwa Selat Hornuz harus dibuka sepenuhnya, dan Iran harus menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada AS.
Sementara itu, CBS News melaporkan bahwa meski AS memblokade arus maritim Iran, kapal-kapal yang terkait dengan Iran masih dapat terus melintasi Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, tindakan AS menargetkan kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran, sementara mengizinkan kapal-kapal yang menuju atau dari tujuan non-Iran untuk melewati Selat Hormuz, secara efektif membatasi cakupan blokade.
'Meskipun ada blokade, beberapa kapal tanker terlihat berlayar di selat Hormuz,' kata CBS.
Media ini menyebutkan kapal tanker dimaksud, yakni kapal tanker, Christianna yang sebelumnya dihentikan di pelabuhan Bandar Imam Khomeini di Iran, dapat melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz.
Kapal Ladonna yang telah berlabuh di pelabuhan yang sama selama beberapa hari, mengaktifkan sistem pelacakannya dan melanjutkan perjalanan ke Teluk.
Kapal-kapal lain yang terdeteksi dalam data tersebut termasuk Murlikishan, sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi AS karena dugaan keterkaitannya dengan Iran, dan Peace Gulf, yang saat ini tidak dikenai sanksi tetapi telah singgah di pelabuhan Iran akhir tahun lalu.
Kedua kapal tersebut dilacak bergerak melalui jalur air tersebut sepanjang malam.
Demikian pula, Rich Starry, yang dikenai sanksi dengan nama berbeda, dan Elpis, kapal tanker lain yang diyakini telah berangkat dari Bushehr, juga tercatat melintasi Selat Hormuz setelah blokade diberlakukan.
"Pergerakan kapal-kapal ini yang terus berlanjut menunjukkan bahwa arus maritim melalui Selat Hormuz tetap aktif, meskipun ada upaya AS untuk membatasi pengiriman yang terkait dengan pelabuhan Iran," kata CBS lagi.
Para pengamat mencatat bahwa banyak kapal yang melintasi jalur air tersebut adalah kapal komersial pihak ketiga, yang sebelumnya telah diindikasikan oleh Iran dapat terus melintas selama mereka tidak dianggap sebagai kapal musuh.
Laporan tersebut menambahkan bahwa data pelacakan mungkin tidak memberikan gambaran lengkap, karena kapal dapat memanipulasi atau memalsukan sinyal lokasi mereka, praktik yang dikenal sebagai spoofing, yang mempersulit upaya untuk memverifikasi rute dan afiliasi secara independen. (man)


